Total Tayangan Halaman

Minggu, 17 Februari 2013

Analisis Kritis Atikel

Analisis Kritis Artikel : Cryopreservation of coconut (Cocos nucifera L.) zygotic embryos does not induce morphological, cytological or molecular changes in recovered seedlings.
Kelapa (Cocos nucifera L.) sebagai salah satu sumber plasma nutfah di Negara Indonesia kini mulai terancam. Beberapa perkebunan kelapa di Indonesia yang merupakan tempat penyimpanan plasma nutfah sekarang mulai tumbang akibat program penanaman tanaman yang lebih menguntungkan (Sisunandar et al., 2010), akibatnya bila hal ini terus terjadi maka plasma nutfah tanaman kelapa pun akan semakin punah. Padahal plasma nutfah tanaman ini merupakan suatu modal dasar dalam perakitan varietas unggul (Tambunan, 2003).
Salah satu strategi konservasi plasma nutfah yang tepat untuk menangani permasalahan tersebut adalah kriopreservasi. Kriopreservasi merupakan salah satu teknik penyimpanan dalam jangka waktu panjang yang dilakukan secara in vitro. Prinsip teknik ini berupa penyimpanan jaringan tanaman pada suhu yang sangat rendah yaitu -196°C dalam nitrogen cair. Pada kondisi penyimpanan yang demikian, maka akan berakibat proses metabolisme pada jaringan tanaman terhambat atau terhenti sehingga seolah-olah jaringan tanaman mengalami dormansi (Roostika, 2007).
Salah satu penelitian tentang kriopreservasi embrio zigotik kelapa adalah Sisunandar et al. Menurut Sisunandar et al. (2010), untuk embrio zigotik dari kultivar kelapa yang berbeda yaitu kultivar Nias Yellow Dwarf (NYD), Nias Green Dwarf (NGD), dan Sagerat Orange Dwarf (SOD), dikriopreservasi mengikuti empat langkah berikut: dehidrasi cepat, pembekuan atau pendinginan  cepat dengan nitrogen cair, pemanasan cepat dan pemulihan secara in vitro yang diikuti dengan aklimatisasi. Pada aklimatisasi yaitu tahap akhir aklimatisasi dilakukan perbandingan antara bibit kelapa hasil kriopreservasi dengan non-kriopreservasi menggunakan analisi fenotipe, analisis sitogenetika, ekstraksi DNA, analisis mikrosatelit (SSR), analisis metilasi tingkat global dan analisis statistik.
Hasil dari penelitian  tersebut menunjukkan bahwa dengan teknik penyimpanan berupa kriopreservasi tidak menyebabkan perubahan morfologi, sitologi serta molekuler pada bibit tanaman kelapa. Hal ini dibuktikan bahwa pada panjang total lengan pendek, panjang total dari lengan panjang, rasio panjang lengan, indeks sentromerik, kromosom dan jumlah alel antara bibit  kelapa hasil kriopreservasi dengan bibit kelapa non-kriopreservasi tidak terdapat perbedaan yang signifikan meskipun dalam analisis morfologi tercatat bahwa pada tahap awal pertumbuhan terlihat bahwa bibit kelapa non-kriopreservasi lebih cepat pertumbuhannya dibandingkan dengan bibit kelapa hasil kriopreservasi. Namun perbedaan tersebut diabakain karena setelah selang waktu enam bulan pertumbuhan antara keduanya tidak dapat dibedakan lagi karena tanaman hasil bibit kelapa kriopreservasi sudah dapat beradaptasi dengan lingkungan.
Dengan demikian, teknik kriopreservasi memanglah suatu teknik yang tepat dalam pelestarian plasma nutfah sebab teknik ini tidak akan memberikan suatu perubahan, baik pada morfologi, sitologi maupun molekuler sehingga varietas unggul pada plasma nutfah dapat dipertahankan. Hal ini juga seperti di ungkapkan oleh Tambunan (2003), bahwa teknik kriopreservasi adalah teknik yang sangat tepat dan efisien dalam segi waktu, ruang, penyimpanan dan tenaga, apalagi dengan tidak menggunakan zat pengatur tumbuh (ZPT) dalam pelaksanaannya maka teknik kriopreservasi sangat aman karena tidak akan terjadi perubahan pada tanaman yang disimpan.

DAFTAR PUSTAKA
Roostika, Ika. 2007. Kriopreservasi: Terobosan Yang Menantang. Warta Biogen Vol.3 No.3.
Sisunandar, A. Rival, P. Turquay, Y. Samosir. S.W. Adkins. 2010. Cryopreservation of coconut (Cocos nucifera L.) zygotic embryos does not induce morphological, cytological or molecular changes in recovered seedlings. Planta 232:435-447.
Tambunan, I.R. dan I. Mariska. 2003. Pemanfaatan teknik kriopreservasi dalm penyimpanan plasma nutfah tanaman. Buletin Plasma Nutfah Vol.9 No. 2 : 10-17.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar